Sejarah GPIBI SILOAM

Pertengahan bulan Juli 2001, Saya (baca: Pdt. Johan) bersama dengan istri tiba di Bali dan langsung bergabung dengan Panti Asuhan Elisama yang berlokasi di Sesetan, Denpasar. Pada bulan Agustus 2011, saya dipercayakan mengajar di STII Bali yang dikemudian hari mempertemukan saya dengan Pdt. Sumbut Yermianto selaku ketua daerah GPIBI (Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia) untuk wilayah Bali, Jawa Timur dan NTB. Beliau meminta kami untuk bergabung di dalam team pelayanan GPIBI. Akan tetapi kami berusaha menolak dan tidak bergabung dengan GPIBI. Setiap kali bertemu dengan Pdt. Sumbut Yermianto, saya berusaha menghindar karena beliau pasti akan mempertanyakan kebersediaan saya untuk bergabung dengan GPIBI. Selama kurang lebih 4 bulan, kami tidak beribdaha tetap di salah satu gereja. Doa kami selama bulan-bulan itu adalah supaya TUHAN mempertemukan kami dengan gereja kami; dan pemimpin gereja itu sendiri yang secara langsung mengundang kami untuk bergabung. Di akhir minggu bulan November 2001, Pdt Sumbut Yermianto mendatangi tempat tinggal kami (saat itu masih kost) dan meminta kami untuk datang dan bergabung dengan gerejanya. Dan kami pun menyerah, karena "inilah pasti kehendak TUHAN". Hari minggu kami menghadiri ibadah gereja yang digembalakan sendiri oleh Pdt Sumbut Yermianto dan kami pun langsung diutus untuk berangkat ke Nusa Dua. Akhir bulan November sampai dengan Desember 2001, kami berkeliling mencari tempat tinggal dan memulai pelayanan perintisan jemaat Tuhan di Nusa Dua. Dan di awal tahun Januari 2002, kami memilih bertempat tinggal di Perum Puri Kampial C/39. Pada hari Minggu, pagi hari kami beribadah di gereja pusat (GPIBI Friendship) dan pada sore harinya kami melakukan ibadah di rumah kontrakan kami (baca : tipe 36) . Ibadah sore hari di rumah kami dimulai oleh dua orang, saya dan istri. Ya, istri memimpin jalannya ibadah, sedangkan saya mengambil pelayanan sebagai pengkotbah. Meskipun demikian, kami berkomitmen untuk menjalani ibadah secara lengkap mulai dari Doa Pembukaan, Persembahan, Kotbah dan Doa Berkat. Dan dari hasil persembahan itulah, kami membeli gitar untuk pelayanan kami.

Selama 6 bulan pertama, kami beribadah hanya berdua saja (tentu saja dihadiri oleh Allah Tri Tunggal dan sepasukan malaikat Surga). Dan kami yakin Allah mendengarkan puji-pujian dan doa kami karena di mana dua atau tiga orang berkumpul DIA hadir di sana. Kami sangat yakin itu dan oleh karenanya kami harus memulai ibadah minggu tersebut dan tidak harus menunggu orang lain. Memang luar biasa stress dan tekanan yang saya alami. Selama berbulan-bulan tidak ada jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan kepada kami. Saya merasa gagal, saya merasa tidak dapat menjadi seorang perintis. Saya berpendapat bahwa saya salah menjadi seorang perintis gereja. Dan saya pun merasa seperti seorang prajurit yang lumpuh. Dapatkan sudara bayangkan apabila hidup saudara tidak menghasilkan apa-apa? Saudara kuliah sampai dengan strata-1 tetapi ternyata Saudara masih belum bisa menghasilkan apa-apa untuk Tuhan? Memang berat menjadi seorang perintis, apalagi memulai dari nol, dari tidak ada orang, berada di lingkungan asing di mana tidak ada satu orang pun yang Saudara kenal. Tetapi pantang surut bagi kami.

Dan kami pun tetap menjalankan ibadah minggu di rumah kami. Dan Puji Tuhan, Tuhan mulai mempercayakan kepada kami untuk melayani satu persekutuan kecil setiap Jumat malam di Perum Raya Kampial. Di tempat itu ada satu keluarga dari GKPB (Gereja Kristen Protestatn di Bali) yang bersedia untuk mengadakan persekutuan bersama setiap hari Jumat Malam. Kami hanya melayani keluarga tersebut dalam persekutuan Jumat malam dan hari minggunya keluarga tersebut beribadah di gerejanya. Dan Puji Tuhan, dari keluarga tersebut kami mengenal keluarga yang belum mengenal Juru Selamat. Belakangan kami kenal dengan nama Sang Ade bagi Artha.

Bagi saya, pertemuan pertama dengan orang itu, biasa-biasa saja. Akan tetapi berbeda halnya bagi Bapak Sang Ade, dia menilai saya sebagai hamba Tuhan yang sadis (beliau menilai dari raut wajah saya). Sewaktu mendengar hal itu, saya langsung berdoa kepada Tuhan Yesus sebagai pemilik jiwa-jiwa, supaya kiranya dialah orang pertama di kampial yang dapat dimenangkan bagi Tuhan. Tuhan mendegar doa kami. Pertemuan kedua kami di pinggir jalan, dia terlihat akrab. Kami bercakap-cakap, sampai kemudian dia menceritakan keluhan dan pergumulan hidupnya. Dia juga menceritakan mimpinya bertemu dengan bangunan gereja sangat sederhana dengan atap rumbia, lalu dia sujud di atas salib di atas bangunan gereja itu. Bertolak dari pergumulan dan mimpinya itu, saya menceritakan Tuhan Yesus yang sesungguhnya memanggil dia untuk diselamatkan. Beliau pun merespon dengan baik dan mengundang saya ke rumahnya.

Kemudian pada pertemuan ketiga, saya memberitakan injil secara lengkap kepada dia, dan menantang dia untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Puji Tuhan Haleluya, dia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Dia, istri dan anaknya menjadi keluarga pertama yang Tuhan percayakan kepada kami untuk dilayani.
Keluarga kedua yang Tuhan percayakan kepada kami adalah keluarga Bpk Lukas Setyo Bakti. Keluarga ini bersedia datang beribadah dan melayani dalam ibadah. Keluarga ketiga adalah keluarga Ibu Suparmini yang siap menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Keluarga keempat adalah Bpk Supar. Dan sampai bulan ke sepuluh dari kehadiran kami di Kampial ada 4 keluarga yang Tuhan percayakan menjadi mitra di dalam pelayanan.

Selama dua tahun terhitung dari Januari 2002 sampai dengan Maret 2004, kami tinggal dan beribdaha di Perum Puri Kampial C/39. Akan tetapi oleh karena keterbatasan dana namun tetap bersyukur juga maka kami mengkontrak tempat ibadah di gudang kayu bakar yang beralamat di Jl Maya Pada No 5, Nusa Dua. Di tempat ini kami berindah selama 1 tahun 2 bulan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus menambahkan bilangan kami dengan orang-orang yang diselamatkan , sehingga jumlah kami sekitar 15 orang. Berawal dari sinilah kami berpikir untuk mengontrak tanah dan membangun sebuah bangunan gereja. Jemaat berkata, mustahil bagi kita yang hanya berjumlah 12-15 orang saja dapat mengkontrak tanah dan membangun sebuah bangunan gereja. Tetapi kemudian jemaat sepakat untuk mendoakan pergumulan ini.

Dengan tetap bergumul memiliki tanah kontrakan dan tempat beribadah, akhirnya kami pun pindah ke rumah kontrakan seorang jemaat yang terletak di Jalan Imam Bonjol Denpasar, Perum Graha Kencana No. 12 tepat pada Juni 2005. Umat Tuhan ini adalah seorang warga negara asing, Korea Selatan yang bernama Kelly Kim. Atas semangat yang Tuhan berikan kepada kami semua, kami datang beribadah dari Nusa Dua ke Imam Bonjol, Denpasar untuk menyembah Tuhan. Kalau bukan karena Tuhan, akan sulit bagi Jemaat untuk datang ke tempat yang jauh ini. Di sinilah Tuhan menambah bilangan kami menjadi kurang lebih 27-35 orang sehingga rumah itu sudah penuh saat kami beribadah menyembah Tuhan, Allah Semesta Alam.

Dan atas kebaikan dari Tuhan Yesus, kami diijinkan memulai membangun bangunan gereja di tanah kontrakan yang Tuhan sudah sediakan. Tepatnya pada tanggal 20 Februari kami memulai penggalian pondasi dan selesai dengan sangat sederhana pada awal Mei 2006.
Kami memulai ibadah di gedung gereja baru ini dengan tekanan di dalam hati oleh karena kami belum mengenal lingkungan dan tetangga sekitar kami. Mungkin kami hanya mengenal sekitar 4 keluarga saja. Untuk bidaha pertama kali tersebut, kami mengunjungi tetangga-tetangga sekitar dan Puji Tuhan, Allah itu baik, semua tetangga berkata "kami tidak jadi masalah, silahkan jalan terus". Besoknya yaitu hari Minggu tanggal 7 Mei 2006, kami memulai ibadah pertama kali dan melakukan perjamuan kudus tanpa adanya pintu-pintu gedung gereja. Dan atas kebaikan Tuhan juga, Gedung Balai Pembinaan Rohani Siloam diresmikan pada tanggal 11 Juni 2006 oleh Pdt. Sumbut Yermianto yang dihadiri oleh sekitar 140 orang termasuk tetangga-tetangga setempat. HALELUYA! Tuhan itu baik, bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setianya. Amin